SAMPAH MENCEMARI SAWAH

 

Sampah di sekitar kita
Foto : Yayan Henri Danisukmara

Dalam beberapa kali kesempatan berjalan jalan ditepian sawah, hal yang mengkhawatirkan adalah dengan banyaknya sampah plastik yang berada di saluran air, bahkan sebagian telah ada yang masuk dalam petakan sawah.  Kejadian tersebut sepertinya tidak hanya terjadi di satu daerah, kebetulan saat itu saya sedang jalan jalan di sekitar Cirebon.  Dari penampakannya sampah plastik tersebut, berupa kemasan makanan ringan, plastik kantong yang sering disebut kresek dan beberapa kemasan dari berbagai keperluan rumah tangga.

Sampah plastik telah menjadi ancaman serius bagi kelestarian lingkungan, dimana kita tahu daur alami plastik yang akan terurai di alam membutuhkan waktu yang lama dari yang puluhan tahun hingga ratusan tahun.  Tentu hal tersebut akan mengakibatkan gunungan sampah plastik akan menjadi semakin banyak karena tidak berimbangnya waktu daur dan produksi dan pemakaian yang kian membesar. 

Sampah di tepi Sawah
Foto : Yayan Henri Danisukmara


Terlihat banyak larangan himbauan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, sepertinya tidak berfungsi karena desakan kebutuhan untuk membuang lebih besar, dan terlihat yang penting sampah tersebut tidak berada di sekitar rumahnya. Sehingga banyak lokasi pembuangan sampah liar yang ditemukan, seperti di tepian jembatan atau bahkan ada yang melemparkannya ke sungai, di sisi jalan yang memang terlihat sepi.  Kejadiannya seringkali itu terjadi tatkala seseorang telah memulai membuang ke satu tempat maka kemudian itu cenderung ditiru sama orang lain, hasilnya semakin lama tumpukan sampah semakin menggunung.  Mereka yang membuang sampah di pinggir jalan, biasanya terjadi sekalian berangkat beraktivitas, dan mereka melemparkan membuang sampah meletakannya di pinggir jalan, hal lain akibat yang akan terjadi mereka tidak hiraukan.  Yang penting sampah dari rumah terselamatkan dan selesai urusan.

Banyak program yang telah dijalankan baik oleh organisasi lingkungan atau komunitas yang peduli dengan sampah, juga oleh pemerintah sendiri.  Namun kenyataannya masih saja persoalan sampah ini belum juga tuntas.  Kampanye tentang pemilahan sampah, dipisahkan sampah organik dari sisa rumah tangga dan sampah an organik pernah didengungkan dan sebagian kelompok masih bisa menjalankan hal tersebut.  Pemasyarakatan Bank Sampah juga telah memperlihatkan hasil yang ternyata tidak bisa dianggap sepele, banyak nilai rupiah yang dihasilkan dari pemanfaatan sampah  melalui proses daur ulang, jual rongsok atau menjadikannya kompos.  Tetapi mengapa hal tersebut tidak dapat dijalankan secara massal, menyentuh semua lapisan dan kelompok masyarakat.

Sepertinya, rasa tidak mau repot atau keinginan segera beres yang penting tidak bermasalah di rumahnya itu masih mendominasi.  Kemudian pertanyaan dan pernyataan tentang fasilitas pengumpulan dan pembuangan sampah yang tidak tersedia secara baik.  Jika pun ada fasilitas yang telah disediakan biasanya tidak berumur lama, karena terkendala pemeliharaan dan perawatan yang kurang dan juga sebagian ada yang rusak karena sikap vandalisme, cenderung merusak fasilitas umum karena iseng ataupun kebutuhan.

Pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa upaya untuk menangani masalah sampah plastik, seperti melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai di beberapa kota dan mengembangkan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Namun, masalah sampah plastik di Indonesia masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah perkotaan di mana kepadatan penduduk dan konsumsi plastik yang tinggi membuat penanganan sampah menjadi semakin sulit.

 Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menangani masalah sampah plastik di Jawa Barat, dan Indonesia pada umumnya, antara lain:

1.       Mendorong penggunaan kantong belanja yang ramah lingkungan, seperti kantong kain atau kantong tahan air yang dapat digunakan berulang kali.

2.      Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya sampah plastik dan pentingnya daur ulang dan pengelolaan sampah yang tepat.

3.       Membangun infrastruktur pengolahan sampah yang memadai dan berkelanjutan, seperti fasilitas daur ulang dan tempat pembuangan akhir yang sesuai.

4.       Menerapkan kebijakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di sektor bisnis dan industri.

Dalam jangka panjang, solusi terbaik untuk mengatasi masalah sampah plastik adalah dengan mengurangi produksi sampah plastik itu sendiri. Ini bisa dilakukan dengan mengurangi konsumsi plastik, meningkatkan daur ulang dan penggunaan bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan, serta melakukan pengolahan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Mari kita mulai mengurangi konsumsi sampah plastik, mulai dari diri kita sendiri dengan tidak terlalu mudah untuk selalu pakai plastik. Jika memang masih memungkinkan tolak lah jika ditawari menggunakan kantong plastiksaat di mini market, buat apa dibungkus plastik jika sekedar membeli sebungkus rokok dan minuman kemasan, kejadianya sering saat anda keluar dari pintu mini market tersebut, maka kantongan itu pun segera mendarat di tempat sampah, karena rokok anda berpindah ke kantong baju dan minumannya pun anda teguk. Sungguh sayang sekali…. Mari kita mulai kesadaran untuk bijak menggunakan sampah plastik (Yayan henri Danisukmara)

Komentar

  1. Kasian bumi klo terlalu banyak sampah plastik. Yuk kita bisa manfaatkan sampah2 kemasan plastik untuk membuat kerajinan, seperti ecobrick.

    BalasHapus

Posting Komentar