Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

LEMBAYUNG DI ATAS SABUGA

Sore ini, seperti sore kemarin Jalanan Bandung tak juga dingin Angkuh dalam diam yang tak biasa Melecut gerak helaan manusia Terawang pikir dalam ombak kehidupan Menjemput siapapun dalam lamunan Barisan asa menyergap dalam dekapan Menunggu waktu terkepal genggaman Hari berlari demi satu harapan Diam menjadi arti tertinggal Kemana harus menyusur tegalan Lembayung di atas Sabuga ... Lembayung di atas Sabuga Keindahan yang tidak terkira Seperti sore itu tengadah raga Ya Tuhan ... Mengapa .. Kehidupan Taman Sari mulai sepi Burung ke sarang hilangkan penat diri Lampu malam telah menggantikan Begitulah kehidupan harus berjalan Sore ini kembali kutelusuri Bongkah dan karat kehidupan Menuju titik yang tidak kumengerti Sampai kapan deraian air tak berhujan Lembayung di atas Sabuga Damai indahmu mematri diriku ... Bandung, Awal Mei 2005

PANCASONA WISATA PUNCLUT

PUNCLUT. Puncak Ciumbuleuit Utara, demikian nama yang dikenal warga Kota Bandung. Satu tempat di bagian Utara Bandung, termasuk wilayah administrasi Kelurahan Ciumbuleuit Kecamatan Cidadap. Luas Kawasan Punclut Kota Bandung adalah sekitar 268 ha, dengan topografi bergelombang dan berbukit, terletak pada ketinggian ± 800 m s/d 1.000 m dpl. Punclut, sekarang lebih dikenal karena hebohnya perebutan tatanan daerah itu, dan lebih bernuansa politis. Padahal Punclut merupakan daerah potensial dilihat dari fungsi ekologis, maupun sosial ekonominya. Terlihat di setiap hari libur atau di hari Minggu penuh diserbu ribuan warga Kota Bandung. Menurut sejarahnya, konon tanah punclut adalah bekas perkebunan teh warisan jaman kolonial dahulunya. Kemudian sebagai tanah erpacht tersebut telah beberapa kali ganti status kepemilikan. Dari tanah negara, kemudian dihibahkan ke beberapa “Nama” sebagai bentuk penghargaan kepada sejumlah tokoh Jabar. Selanjutnya tahun 1997 direvisi dengan dikembalikan ke ne