Just another free Blogger theme

Recent Posts

Selasa, 28 Desember 2021

Baraya dibangun dan didirikan oleh kemuliaan silaturahmi, keutamaan berbagi dan kelapangan hati untuk saling memahami. Kini 7 tahun usia yang sudah di jalani, ketika jabang bayi kita asuh dan bersama, tanpa ada yang merasa saya lelah karena berjaga atau saya menderita karena harus berbagi materi. Tertawa bahagia kita bersama berbagi cerita.

Ketika belajar berjalan tertatih, kita tidak ada yang saling menghakimi ketika dia terjatuh atau tersandung karena tidak pas pakai sepatu. Semua tertawa dalam canda, yang ternyata menghapus semua duka. Semua berganti berjaga, tidak ada aturan absensi yang harus diisi. Semua semangat hadir karena mengutamakan hati.

Kini ketika si Kecil baraya sudah belajar lari, dan main sendiri. Semua khawatir ingin tetap mendekap seolah baraya jangan sampai terluka. Semua ungkapkan kasih dan sayangnya dengan cara berbeda, ada yang menampakan ada juga terus terang dengan balaka. Baraya jadi lah teguh, dengan segala kasih dan sayang dari semua, tidak manja atau berlalu begitu saja.

Seperti kita orang tua, yang enggan lepas dengan anaknya. Semua berkata karena sayang, dan tidak tahu di luar akan terjadi apa. Namun seiring sejalan, itu semua bakal terjadi baraya akan dewasa seperti umumnya dunia. Kita semua akan sadar, kita lahir, anak, remaja dewasa tak ada satu pun yang mampu mencegahnya.

Doa dan kata bijaksana, itu yang dapat kita laksanakan. Orang tua selalu utamakan kata bahagia... Baraya tempat kita berbagi, canda tawa tidak merasa tua tuk berkarya. Berbagi bahagia kita utamakan daripada berbagi cela dan itu semua karena kita peduli

Baraya rumah kita bersama, sampai ajal kita tiba...


Dhuhur menjelang

Legok Paseh, 28 Desember 2021

Sabtu, 25 Desember 2021

Pada tanggal 21 - 22 Desember 2021 NPCI Jawa Barat gelar Rapat Kerja Daerah di Palace Hotel Cipanas Cianjur. Mengambil tempat di Cipanas dengan udara dingin, agar dalam rapat didapat hasil keputusan yang diambil dalam suasana dingin hati. Hal tersebut maklum, rapat berlangsung dalam suasana hangat utama nya saat membahas kesiapan pelaksanaan Peparda VI yang masih simpang siur kepastiannya.

Bahwa tuan rumah sudah ada kepastian dengan bersedianya Kabupaten Bekasi untuk menjadi tuan rumah. Sementara kepastian keputusan dan penetapan dari Gubernur Jawa Barat belum didapat. Salah satu yang mungkin jadi bahan pertimbangan adalah pelaksanaan Porprov yang belum dapat kepastian karena masih terkendala masalah tuan rumah.

Hasil lainnya secara bulat NPCI Kabupaten/Kota se Jawa Barat bertekad bulat pelaksanaan Peparda VI tetap di tahun 2022. Hal tersebut juga didukung oleh perwakilan Dispora Kabupaten/Kota yang juga hadir pada saat pembahasan Peparda VI. Jadi Ketua umum NPCI Jawa Barat akan segera berkirim surat serta menghadap ke Gubernur Jawa Barat, untuk menyampaikan aspirasi tersebut dan secara tegas Peparda VI siap terlaksana bulan Nopember 2021.

Dukung terus terlaksananya, Peparda VI 2022 sebagai agenda NPCI Jawa Barat.

Bandung, 22 Desember 2021


Kamis, 23 Desember 2021

Hari ini, Kamis 23 Desember 2021 telah berlangsung bazar UKM Disabilitas bertempat di pelataran belakang Gedung Sate Bandung. Giat ini berlangsung sebagai kolaborasi para disabilitas dari berbagai kabupaten kota se jawa barat. Dari berbagai assosiasi disabilitas yang ada, dengan Dinas Sosial dan peran bu Anggy dari Kantor Staff Presiden.

Dalam kesempatan terpisah, NPCI Jawa Barat juga mendapat kunjungan dari teh Desy Ratnasari Politikus dari PAN. Ini adalah bentuk silaturahim, dan titip pesan nya agar para disabilitas utamanya yang dimotori oleh NPCI Jawa Barat untuk berkolaborasi dengan berbagai kalangan, baik itu yang ada di dewan atau pun para pemangku kepentingan di berbagai kabupaten kota masing masing. Sehingga apa yang menjadi inspirasi bisa lebih luas dalam dukungan yang didapat.
Bandung, 23 Desember 2021

Rabu, 22 Desember 2021

Ibu


Ibu hari itu aku mengganggu mu
Kala kau sibuk siapkan sesuatu
Aku membisu hanya termangu
Karena aku tak bisa ikat kan sepatu

Ibu hari itu aku menggoda
Kala kau terlelap karena berjaga
Aku gerah merengek manja
Kau kipaskan aku hingga terlelap bahagia

Ibu hari itu aku terlalu
Abaikan kan engkau yang minta aku turut
Aku kejam menolak tidak mengaku
Kau pergi tinggalkan aku dengan hati pilu

Ibu hari itu aku merasa
Kau tetap penuh cinta padahal aku tlah dewasa
Kala aku terbaring tak berdaya
Sampaikan kata sudah saatnya aku bahagia

Ibu kini kau telah tiada
Jasadmu telah berada di alam baka
Tapi wajah dan katamu tetap menjaga
Harapkan aku tetap bahagia

Ibu
Maafkan aku
Kala antar doa dalam kalbu
Dalam dekapan mu yang ku rindu
Ibu....


Cipanas, 22 Desember 2021

Ada seribu tanya mengapa
Terserak menghampar di beranda dada
Tampak kilau cahaya bahagia
Hanya saja di ujung fatamorgana

Bertanya pada malam
Diam menghantarkan kelam
Tak sanggup diri mengaku
Akhirnya terpaku hanya membisu

Bertanya pula pada siang yang benderang
Dalam bising riang hanya sampaikan gamang
Tak sanggup diri terima
Akhirnya tertatih mengeja makna

Bertanya pada pemilik malam dan siang
Yang selalu rindukan beradu pandang
Mengapa Jauh jalan kau cari
Bahagia ada di hati kala kau berbagi

Dalam gumpalan segemgaman tangan
Tersimpan segala rajutan kehidupan
Kepada Nya kita harus tersungkur
Pasrah iklaskan yang lalu dalam penuh syukur

Palace Hotel Cipanas, 21 Desember 2021

Selasa, 21 Desember 2021

Saya Mendapatkan Video ini beberapa tahun yang silam melalui WA kalau tidak salah, terus saya simpan karena isinya yang memang bagus. Saya tidak sedang membicarakan setting nya yang bercerita tentang menghadapi hari raya (Imlek). Kita semua memiliki hari raya tersendiri, dan kejadian tersebut boleh dibilang terjadi juga sama kita (setidaknya saya). Jujur kalau dipikir, dan ego kita akan memilih salah satu pilihan di awal dan memang harmonis tidak menjanjikan kesenangan kalau dilihatnya di awal. Ternyata pilihan tepat tuk memilih Harmonis, dan akhirnya saya pun harus mengakui tepatnya pilihan itu, Ego saya harus lebih banyak belajar lagi...

Senin, 20 Desember 2021

Saya sudah atau memang tidak ingat apa yang kita lakukan saat umur 2 atau 3 tahun, walau saya kadang tercengang dan cukup kaget ketika anak kita celetuk berkata tentang suatu peristiwa. Haii itu kan kejadian waktu umur kamu 3 tahun, emang masih ingat? saya menimpali. Itulah yang namanya memory, yang konon isi memory anak sampai dengan umur 7 tahun adalah masa terbaik untuk mengisi dengan berbagai memory yang baik. Tetapi tentu saja tidak semua memory tersebut dapat bertahan hingga kita dewasa. Apalagi saat kita dewasa banyak kegiatan dan peristiwa yang menyita sistem memory kita. Memperhatikan video berikut, ada baiknya kita selalu perhatian dan menjaga komunikasi tetap aktif dengan orang tua kita. Disaat memasuki usia senja, tentu interaksi dengan sekitar telah berkurang, Hal tersebut menyebabkan timbulnya rasa kesepian dan kesendirian, rekaman masa lalu akan timbul dan itu menimbulkan rasa rindu yang luar biasa. Itulah yang saya perhatikan dari Video berikut ini Mari kita selalu komunikasi dengan orang tua kita, ibu bapak kita. sehebat apapun kita, tetap kita adalah anak dan mereka akan perhatikan kita sama seperti yang ada dalam bayangannya .... Nak sudah makan belum, Kamu jangan cape cape nanti sakit .... (Hmm begitulah kita ketika bertemu dengan mereka) ... Maafkan saya bapak, maafkan saya ibuuu....
Euforia Olympiade masih terasa, disusul kemudian ParalImpik Tokyo 2020 Presiden bapak Jokowi pun memberikan respon yang luar biasa dengan mengadakan video jarak jauh dengan para atlit dan kontingen, serta yang membuat bangga lagi adalah beliau menyampaikan undangan langsung bahwa kontingen semua saya tunggu di istana. Begitu pun Gubernur Jawa Barat bapak Ridwan Kamil dalam kesempatan konferensi pers menyampaikan terharu dan rasa bangganya, karena prestasi luar biasa yang dicapai kontingen Paralimpik di Tokyo, ada kontribusi atlet asal Jawa Barat, demikian Kang Emil menegaskan bahwa Jabar Juara Lahir Batin ada terwujud, seperti yang disiarkan dalam Info Jabar. Dalam kesempatan ini NPCI Jawa Barat memberikan kesempatan luas kepada para pengurus cabang (Pengcab) NPCI se Jawa Barat yang berjumlah 27 kabupaten kota untuk berkembang seluas luasnya, dalam pembinaan olahraga disabilitas. Di mana saat ini NPCI Jawa Barat menjadi tolok ukur dalam pembinaan prestasi olah raga disabilitas di Indonesia. Potensi atlet Jawa Barat dalam dekade terakhir ini banyak memberikan kontribusi dalam kancah turnamen internasional. Pada penyelenggaraan Paralimpik yang baru lalu di Tokyo, prestasi Indonesia sangat membanggakan dimana di awal dibebankan untuk mencapai posisi 60, dan kenyataannya bisa mencapai posisi 43. Untuk atlet asal Jawa Barat pun berkontribusi dengan menyumbang satu medali emas dan satu medali perak dari cabor Parabadminton. Salah seorangnya adalah atlet yang berasal dari Majalengka. NPCI Kabupaten Majalengka, yang saat ini berkantor di rumah ketua nya yaitu berada di lingkungan Giri Wulan 1 Rt 001/001 Kelurahan Majalengka Wetan Majalengka. Hal ini juga menjadi sallah satu keprihatinan di mana sampai saat ini NPCI Majalengka belum memiliki kantor sekretariat yang mandiri. Karena keberadaan kantor menjadi salah satu pendorong dalam pembinaan yang dilakukan Saat ini NPCI Majalengka memiliki sebaran atlit sejumlah 23 atlet dari 8 cabor yang dimiliki, yakni Bulutangkis 3 orang, Renang 4 Orang, Atletik 4 Orang, Panahan 2 orang, Tenis Meja 4 orang, Panahan 2 orang, Catur 1 Orang, Angkat Berat 3 orang. Dari jumlah atlet yang ada terbagi 1 atlet Nasional, 6 atlet Provinsi sedang sisanya masih berstatus atlet kabupaten. Prestasi kabupaten Majalengka dalam partisipasi di kancah Peparprov Jawa Barat di peringkat 16 pada tahun 2014 dan peringkat 13 pada tahun 2018. NPCI Majalengka saat ini digawangi oleh Ketua Hendry Indra Gumilar, Sekretaris Otong Sumarto, Bendahara Aang Awaludin. Dalam kesempatan ini ketua menyampaikan yang menjadi visi misi nya adalah Menjadikan NPCI Majalengka sebagai organisasi pembina olah raga disabilitas yang mengedepankan prestasi. Mengejar urutan 10 besar pada Peparprov tahun 2022 memdatang, dan membina atlet dengan pembibitan atlet muda. Dandim Majalengka sebagai Pembina NPCI Majalengka memberikan dorongan yang luar biasa, dengan kerap hadir pada kegiatan kegiatan yang diadakan oleh organisasi. Dalam akhir pembicaraan Ketua NPCI Majalengka kembali mengulas hal yang menjadi prioritas saat ini adalah : 1. Atas ketersediaan sektetariat, mohon kepada pihak yang berkepentingan untuk turut membantu realisasi tersebut sebagaimana telah dijanjikan oleh bapak bupati pada bulan Maret 2021 saat audensi NPCI dan bapak Bupati di ruang kerja bupati. 2. Bahwa NPCi saat ini telah menjadi organisasi yang mandiri dalam pembinaan olahraga disabilitas, oleh karena itu mohon kiranya anggaran pembiayaannya konsisten terealisasi setiap tahunnya.Sebagaimana saat ini NPCI adalah berbeda dengan KONI yang membina atlet umum. Ketika KONI konsisten mendapat anggaran, maka harus demikian juga pada NPCI. 3. Sinergi dengan para pemangku kepentingan, NPCI majalengka membuka diri untuk sama sama meningkatkan prestasi membawa nama baik Majalengka Sebagai penutup pembicaraan Hendry sebagai Ketua NPCI Majalengka,menyampaikan bahwa tantangan terbesar adalah sosialisasi tentang Organisasi NPCI yang memang tidak bisa dipungkiri saat ini belum begitu mendapat perhatian, karena memang kelahirannya yang terpisah dari KONI baru mulai tahun 2009. Oleh karena itu turut menghimbau para pemangku kepentingan khususnya yang berkaitan dengan bidang olah raga untuk sama sama memahami kondisi terkini tentang keberadaan NPCI sebagai satu satunya organisasi yang membina olahraga disabilitas di Indonesia.
Jalan ke Cipanas lewat Cianjur
Kalo dingin cari ketan bakar
Hidup gelisah jangan terlanjur
Dinginkan hati tidak biasakan makar

Sungguh Indah pemandangan gunung
Berselimut kabut merendah dikulum
Jangan gelisah dan biarkan hati murung
Buang takut biasakan sedekah senyum

Indah permai pemandangan lewat jendela
Terhampar hijau jauh seperti permadani
Hati damai berpantang tuk berbuat cela
Agar tidak mengacau dan pandai jaga diri

Palace Hotel Cipanas, 21 Desember 2021

Minggu, 19 Desember 2021

Menjadi slogan selama event PON dan Peparnas berlangsung di Papua. Secara arti mungkin itu saya bisa, penggambaran optimisme dari masyarakat Papua bahwa mampu menyelenggarakan kepercayaan yang diembankan pada mereka. Untuk PON sudah terbukti terlewati dengan telah pulangnya kontingen ke daerah masing masing dengan aman dan selamat. Itu hal yang luar biasa, ternyata Papua aman dan damai. Bandara Sentani mampu mendatangkan dan memulangkan tamu yang kurang lebih 30.000 orang. 

Dan sekarang akan mendatangkan sekitar 6.000 orang dimana sekitar 50%nya adalah para disabilitas. Aksesibilitas property sudah menjadi kewajiban internasional untuk tersedia di bangunan bangunan layanan publik baik lembaga pemerintah maupun swasta. Mungkin saat ini dengan semangat untuk penyelengaraan, kedepannya diambil pengalaman harus adanya tersedia akses disabilitas seperti penyediaan lift yang mampu menampung kursi roda, toilet, ram landai yang menyertai tangga berundak. Saat ini hal itu belum mampu terjawab semua, tidak mungkin untuk menyempurnakan itu dalam sekejap. 

Harapan kedepannya paling tidak telah menjadi catatan bagi pihak pemerintah provinsi dan daerah untuk diterapkan menjadi aturan yang berlaku. Apalagi event ini telah menjadi moment menarik bagi mereka yang berminat dalam dunia politik. Setidaknya menyumbang baliho ucapan selamat dan paling tidak lupa adalah foto diri yang terpampang. Ini juga menjadi catatan, ucapan lebih banyak pada event pon tidak demikian pada event peparnas, ini satu hal ketidak tahuan mereka, jangan sampai itu karena ketidak pedulian mereka ada yang level nasionalpun tidak ada empati itu. Kalo torang bisa harusnya itu menjadi catatan, minus 50 bagi mereka. Dan plus bonus 70 bagi torang dari daerah yang sudah memberikan empatinya pada event ini.

Karena perhatian pemerintah pusat melalui Presiden yang luar biasa, itu memberi efek domino kepada para pemimpin daerah untuk memberikan perhatian serupa. Walau diawal ini masih merupakan getok tular, mudahan kedepannya hal itu sudah menjadi bagian dari empati yang harusnya kita tonjolkan. Luar biasa, rencana kehadiran kepala daerah se Indonesia yang konfirmasi kehadiran di Pembukaan atau penutupan. Ini melebihi tingkat kehadiran pada pagelaran serupa 5 tahun silam di Bandung. Padahal daya tarik Bandung lebih besar, karena Bandung ngangenin... itu kalah.
Saat ini pembukaan akan dibuka oleh wakil presiden, karena presiden sedang kunjungan keluar negeri. Padahal konon beliau kejar waktu agar dapat hadir di pembukaan. Karena ada wajib karantina, maka tetap tidak bisa memaksakan. Akhirnya disepakati, pembukaan oleh wapres dan penutupan presiden berkenan hadir. Luar biasa Torang Bisa. Dengan demikian Para Gubernur pun telah banyak yang menyatakan dan konfirmasi kehadirannya. 

Masalah baru timbul, dalam aturan atlet paralimpik wajib di hotel mengacu pada aksesibitas itu. Ketika ketersediaan kamar untuk atlet saja tidak cukup. Ini akan bertambah dengan rencana kehadiran para kepala daerah. Kita serahkan kan pada Torang Bisa. Minggu, hari ibadat. Masih terlihat lenggang ketika saya keluar untuk beberapa pe er yang tersisa. Kordinasi dengan pihak Kodam Cendrawasih, kemungkinan pemakaian fasilitas olahraga dan akomodasi yang ada. Fasilitas olahraga hanya akan digunakan selama masa menunggu sebelum masa tanding. 

Posisi Kodam yang berada di atas bukit yang berhadapan langsung ke teluk Youtefa,dan jauh di sana adalah laut lepas pacific. Alhamdulillah kembali dipertemukan dengan warga "dangdaunan", di posko bertemu dengan prajurit jaga. Orang Kuningan dan orang Garut. Alhamdulillah komunikasi jadi lebih cair. Setelah mendapat informasi yang diperlukan, kami ijin melanjutkan perjalanan. Pak Kolonel yang menerima kami, banyak bercerita tentang kondisi setempat. Beliau memang baru satu tahun, sebelumnya bertugas di Bogor. Sekali lagi menegaskan sempatkan ke posko Skouw perbatasan dengan Papua Nugini. Jalannya bagus dan aman, sekalian melewati jembatan merah. Sarannya kami pertimbangkan, dan utamanya kita sudah harus makan siang. Jayapura, Minggu 31 Oktober 2021

Jumat, 17 Desember 2021

Makan apa kita siang ini, hmmm ini sementara jadi pertanyaan penting. Dua hari sudah ada di Jayapura, atau mungkin karena fokus pekerjaan dan tidak sempat jalan jalan. Ya saya mesti hati hati karena bisa jadi kita masuk ke zona terlarang dalam hal makanan. Jadi saat begini kangen bertemu dengan perempuan berhijab, setidak itu menjadi tanda saya untuk bertanya lagi welcome tuk kami atau tidak. Menu netral, ayam, ikan, telur itu jadi pilihan utama. Saya gunakan kecanggihan pesan antar, go food. Ternyata tidak banyak pilihan. Yang membuat kaget menu mujair bakar itu Rp. 100.000 untuk satu porsinya.... aje gile salah tulis atau benar tidaknya saya ga minat tuk konfirmasi, yang pasti tertulis di sana.. positifnya peluang usaha bagi mereka tuk ternak mujair atau nila tersebut.
Belum ketemu rumah makan khas Sunda, mungkin karena tidak banyak komunitas suku yang dikenal penyuka daun daunan alias lalab dan kerupuk. Kalo ada sepertinya akan menjadi pilihan dan sayur asem akan selalu dipesan, lupakan asam urat dulu. Karena yang penting bisa mengisi kampung tengah tanpa rasa protes. Jayapura itu mungkin sebesar kota Cirebon. Kalo melihat statistik penduduknya ada sekitar 1 juta jiwa. Mall terbesar  yaitu mall Jayapura saya pun hanya melintas di depannya. Mungkin malam minggu bisa menjajaginya, apa yang akan dicari ya pasti semua standar seperti yang kita temui.

Seharian di sekretariat Bidang Akomodasi Panitia setempat, konfirmasi penempatan untuk akomodasi kontingen Jabar. Beberapa kali gagal menemukan sekretariat dimaksud, ke tempat panitia Besar (PB), ternyata di sana sepi. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 9 lebih, dan di arahkan tuk langsung ke bidang. Mendatangi alamat yang dimaksud, ternyata sepi padahal ditemukan mobil dan motor terparkir di halaman. Ketemu orang ketika ditanyakan, disampaikan mungkin di kantor sebelah... pindah ke sebelah pintu terkunci dan tetap tidak ada orang. Dan ternyata benar dugaan saya, ini masih pagi dan katanya sebagian ada yang pergi ibadat. Akhirnya kami cari tempat untuk ngopi dan mencari informasi kembali?, ya nongkrong di JCo. Jaminan standar yang membuat hati lebih tenang.

Setelah mendapat kabar orang yang dituju dan kita minta ketemu, supaya tidak nyasar akhirnya kita minta share lokasi alamat yang  akan dituju. Kembali ke standar, ga pakai debat mbah gogel dengan map nya. Setelah mengikuti liku liku yang diarahkan tidak ada tanda tanda. Pakai jurus tanya langsung on the spot, ada orang kita tanya dan sebutkan alamat yang dituju dia jawab tidak tahu. Terima kasih. Maju ke depan lagi, itu mungkin yang ada mobil ber nopol merah. Kita tanya ulang, dan kaget kalo dia bilang salah mas itu bukan alamat yang dituju. Heran campur aduk, setelah jauh dari orang yang ditanya. Kita cercar yang navigator pegang map, masa salah mbah gogel. Diputuskan tanya kembali ke orang yang mau dituju, kok tidak ada alamat yang dimaksud. Akhirnya dia kirim sharelok baru dan memang jauh beda. Kenapa tadi terima sharelok pertama kok meleset. Ohhh mungkin saat ditanya  dan diminta share lok pertama, orang tersebut sedang di luar... Sabar dan ga usah dibahas.

Panitia sedang stress berat, dengan dialek khas papua keadaan kantor seperti sedang ada pertengkaran. Dan akhirnya kami ditemui, saya kenal dengan yang menemui ternyata dia dari pusat, saya pernah bersamanya saat Bandung jadi tuan rumah dan kami bersama sama mencari hotel dan memverifikasinya. Pak Yasin, dia disabilitas pengguna kursi roda. Dia yang dipercaya untuk mengatakan hotel tersebut layak atau tidak aksesibilitasnya. Maksud baik dari pemerintah pusat menetapkan Papua sebagai tuan rumah adalah untuk mengangkat semangat pembangunan.
Dalam kenyataan sekarang, jumlah tamu yang akan datang lebih besar dari jumlah kamar yang tersedia. Itu menjadi kendala besar. Kenapa waktu PON tidak begitu muncul? PON tidak wajib menyediakan hotel, sehingga para kontingen bisa menyewa rumah rumah penduduk. Sedang untuk peparnas atlet mutlak harus ditempatkan di hotel yang aksesibilitasnya baik. Dan itu tidak mencukupi, ditambah lagi kepentingan dari pejabat pusat dan daerah yang sekarang antusias hadir dengan kesiapan para kepala daerah menyatakan siap hadir. Itu membuat panitia pusing tujuh keliling, kolaps... tetapi hajat harus terlaksana, sejumlah kompromi harus diterapkan. Berbagi ruang.

Pukul 16 lebih sore itu, keluar dari kantor.. kami membayangkan bagaimana kontingen lain. Kami yang berkordinasi lebih awal saja tidak dapat akses akomodasi semua walau harus bayar sendiri. Akan timbul kegaduhan saat kontingen mulai berdatangan, hmmmm. Ga tega terus membayangkannya. Sekarang pulang untuk makan siang dan makan malam yang disatukan.. karena tadi makan siang terlewatkan. Kalo saya pengen ikan bakar laut, dan ternyata teman setuju daripada ke solaria lagi, kali ini tidak standar.

Tempat terdekat yang direkomendasikan googel, ternyata dekat pelabuhan dan tempatnya lumayan asyik pinggir laut lihat pelabuhan dan kejauhan lihat gedung bertingkat jaya pura dan ternyata dekat juga dengan hotel kami. Terobati lelah dengan pemandangan dan menu yang tersedia, menu yang kami pilih, ikan trakulu bakar, udang tiger bakar, cumi asam padang, kepiting asam manis, cah kangkung bawang putih. Foto tersedia, sementara asam urat akan kambuh kalo tidak ikut makan...bismillah... oh yah saya bilang kalo yang dari laut mah semua halal walau ga disembelih dan memang di menu ada tulisan dijamin halal dan kita juga konfirmasi lagi... kami percaya walau yang mengiringi makan kami adalah alunan lagu rohani.... hhmmm mau apalagi. Lahaulawalakuata... akhirnya yang tersedia bersih juga
 
Jayapura, Sabtu, 30 Oktober 2021

Kamis, 16 Desember 2021


Di bandara mendarat tepat seperti jadual yang ada, proses biasa menunggu pengeluaran dan pengambilan bagasi. Garuda terbang, jadual terlaksana baik. Isi penumpang tidak bisa dikatakan jelek, termasuk penuh teriisi sekitar 70 %. Tahu juga saat chek in dan memasukan bagasi, iseng ngobrol karena memang kami termasuk awal yang datang, dan juga banyak tersedia konter untuk chek in. Hal ini karena kami ditanya mau pilih kursi di posisi mana? Lorong atau jendela. Kebetulan saya memang pilih jendela, iyah masih bisa katanya karena dari 140 terisi 80 kursi. Tapi kenapa sekarang gonjang ganjing yahh.... gaa ikutt ikuutt.

Hari ini belum bisa langsung chek ini hotel, karena memang masih pagi. Kami tetep pilih memuju Mercure hotel, setidaknya dapat titip barang bawaan kami. Setelah itu saya coba cari tempat sarapan, yang ternyata cukup sulit didapatkan. Panas cukup menyengat, berjalan di trotoar jalanan. Akhirnya diputuskan tuk makan dengan menu gudeg, mau coba gudeg di Papua barangkali bahannya bukan dari nangka muda. Ternyata yang jualnya wong jowo, pas ditanya tiang pundi, kulo jowo awit njogja. Pun lami tinggal ning mringki.. Nembe mawon mas jawabnya. Emangnya dah berapa tahun, ga sanggup saya make basa jowo lagi... mulai keteteran. Jawabnya baru 18 tahun.... terlalu si ibu ini bercanda yah 18 tahun baru. Mungkin saking betahnya...
Habis urusan kampung tengah selesai, dan tidak ada demo musik kroncongan dari sana. Mulai kita bahas kemana tujuan, akhirnya menuju satu tempat di daerah entrop untuk ambil kendaraan sewaan. Pesan grab, dan mobil pun tiba setelah menunggu sekitar 15 menit lamanya. Kami naik, dan saya kebetulan duduk di depan samping pak kusir yang sedang bekerja... nah jadi bercanda lagi. 

Dari tampang muka dan wajahnya kayaknya jauh dari warga pribumi. Saya coba tanya basa basi dari mana pak mulai sok akrab, membuka percakapan. Saya dari makasar, jawabnya. Padahal kalo ga dijawab pun saya sudah tahu dari mana itu karena pernah saya kenal. Aga kareba daeng, saya lanjut pertanyaan.. Dia jawab sambil senyum simpul, kareba baik baik.. dia jawab setengah setengah, aihh bapak ini bisa juga katanya. 

Saya pun cerita pernah 18 tahun di Kalimantan dan banyak teman bahkan jadi saudara dari sulawesi selatan. Dan akhirnya dia pun sampaikan kalo perlu ada apa apa catat saja no hape saya. Bapak jalil namanya, sudah 20 tahun di Papua cerita perkembangan munculnya hotel hotel. Tidak saya sampaikan kalo tadi pagi juga kita sudah berkenalan dengan sopir dari bandara, anak muda dengan tampilan preman badan penuh tato, mobil knalpot racing ... dia pun orang sulawesi selatan ini bener baru 5 tahun katanya.


Tiba ditujuan, turun kami kebetulan teman ada kenalan di papua yang juga orang bandung dan menawarkan ada mobil yang bisa disewakan karena dari pada ga dipakai katanya. Kami disambut oleh dua orang, yang satu muda dah ketebak yang ini temannya temanku soalnya satu nya tampak sudah kakek kakek... Saya bersalaman karena dikenalkan sama temanku, ini juga orang sunda katanya, ti Cianjur kawitna.... ehhh saya pun salam dan nyapa kumaha damang pak.. tos lami di dieu, dan dijawab ya baru juga 50 tahun... atuhh pak 50 tahun mah dah incuan, kata saya teh.. ga perlu di terjemahkan yahh... duhh si bapak betah apa doyan.


Setelah membawa kendaraan sewaan, lanjut ke seseorang yang akan sangat membantu menurut yang mempromosikannya.Karena tidak tahu jalan akhirnya kami percayakan sepenuhnya sama mbah gogel. Dan perjalanan pun dimulai, kami berbelok ke kiri tidak tahu nama jalannya tapi jalannya mulai mengecil dan berkelok. Saya yang terbiasa bawa kendaraanpun dibuat rada berdenyut pantat ini, soalnya dah berapa kali kejadian mobil yang terengah ditanjakan, bahkan berhenti karena ga kuat. Yang menurut saya itu karena dipaksakan dengan gigi tinggi dan mesin ga kuat. Belum lagi motor bagai kan tank baja ga ada matinya. Lebih baik kita yang mundur kalo begini.


Yang kami temui adalah direktur PDAM kota Jayapura, yang ternyata asalnya dari Cikampek, bapak Sutisna, belum berani bertanya kok bisa yah... cerita kilas balik kalo dia support tim jabar di pelaksanaan PON kemarin... hmm kalo darah salembur mah tetep aja ya pak... Ngomong ngomong bapak nya ini sudah 29 tahun di Papua, baru atau sudah lama ngga yahh.. sekali lagi belum berani tanya. Beliau berperan dari nol di PDAM kota Jayapura, dan turut membesarkan PDAM Jayapura dengan berbagai produk inovasinya. Akhirnya kami ikut berfoto tuk promosi air mineral produksi PDAM Jayapura... cistt pasti pake jempol atuh... dan sekali lagi saya belum tanya apa arti merk Robonholo dari minuman kemasan itu... kita janjian tuk lanjutin pembicaraan nanti selepas magrib, karena waktu jumatan tiba.... ga da terdengar azan dari pengeras suara.... jangan tanya....
Kapan saya ketemu pribumi? 
Hhmm setengah satu... wahai kantuk datanglahhhhh
 
Jayapura, Jumat 29 Oktober 2021

Catatan Perjalanan
Kami bersaudara para perokok Indonesia (tidak berupaya kampanye untuk merokok)
Kamis, 28 Oktober 2021 awal perjalanan saya menuju luar pulau Jawa. Sebelumnya sekitar bulan Juli perjalanan ke arah Barat Indonesia ke daratan Sumatra, Batam dan Tanjung Pinang Kepulauan Riau. Kali ini perjalanan ke arah Timur. Ujung Timur Imdonesia ke Papua, konon Pulau di Timur Indonesia tersebut pulau dengan kekayaan alam yang melimpah. Suatu yang patut disyukuri kita sebagai bangsa Indonesia.

Papua, baru saja selesai menyelenggarakan pesta olahraga terbesar di Nusantara ya PON XX Papua tahun 2021, dua minggu kebelakang telah selesai digelar dan Provinsi Jawa Barat masih dapat mempertahankan supremsi olah raga Nasional sebagai Juara umumnya.  Di tengah susana pandemi Corona 19 penyelenggaran tersebut sukses luar biasa. Semua kecemasan kekhawatiran di awal tidak terbukti. Keamanan tidak terdengar adanya gangguan berarti, menandakan damai adalah lebih indah dan membawa kenangan bagi semua tamu yang hadir.

Pukul 21.00 sudah tiba di bandara, perjalanan dari Bandung hampir tanpa hambatan walau tadi di pertengahan tol Purbaleunyi hujan turun memaksa kendaraan berjalan dengan perlahan. Sekitar 2,5 jam waktu yang ditempuh setelah melewati Jalan tol layang Syeh Muhamad bin Zayed memasuki tol kota juga lancar jaya. Setelah chek in untuk memasukan barang ke bagasi, kami mencari tempat makan karena tadi tidak sempat mampir di rest area, karena kekhawatiran terjadi kemacetan.

Satu hal yang menjadi kegelisahan bagi yang merokok, area di dalam bandara haram bagi penyuka asap tersebut. Akhirnya kami cari tempat smoking area dan adanya di luar, ada ruang berupa kotak kecil sekitar berukuran 2 x 5 meter, di awal pas turun dari kendaraan dikira tempat tersebut sebagai tempat untuk pemeriksaan kesehatan. Ternyata, di situ kami merasa Indonesia dan merasa bersaudara dipersatukan oleh asap rokok. Terdengar bincang dalam berbagai dialek dan logat bahasa daerah yang berbeda. Dari mereka tampak, ada yang berpakaian rapi sepertinya bertugas di bandara, ada juga yang berpenampilan sangat santai dan seadanya nampaknya mereka para pekerja yang akan kembali ke tempat kerja, ada pula yang tampil perlente dengan tentengan tas yang berkelas. Di situ bercampur baur, hanya karena hal yang sama yakni asap rokok. Kita tidak bawa korek dan meminta api pada mereka maka akan didapat hormat penuh takzim, mungkin dia ingat juga pernah mengalami hal serupa, dan betapa merananya pegang rokok yang belum tersulu. Ya pengalaman sebagai sesama penghisap rokok.

Indonesia, dalam damai kami bersyukur dapat melalui kehidupan ini yang lesehan di bawah, yang duduk di kursi ketika kita sama satu tujuan maka kedamaian itu tercipta. Semoga damai selalu Indonesia, dan salam salut saya bagi mereka yang sering dipelesetkan sebagai ahli hisapb, mereka adalah termasuk penopang ekonomi Indonesia. Bukan membela yah, kalo memang dilarang banyak yang bertanya kenapa pabriknya diijinkan. Seperti kebijakan saat ini para perokok semakin tidak mendapat tempat, semua tempat berlomba untuk semakin meningkatkan area non smokingnya. Seperti kejadian saat ini, kami berkumpul dalam kotak penjara pembeda untuk para penikmat rokok.
Ingat selalu pesan pemerintah pada kemasan rokok anda.

Bandara Soekarno Hatta, Kamis 28 Oktober 2021 Terminal 3 Garuda Indonesia