Hujan Sebagai Berkah

Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika musim hujan akan datang di bulan Oktober, kenyataannya untuk Bandung dan sekitarnya dalam sebulan ini telah kerap turun hujan. Hujan adalah berkah maka tatkala hujan kita dianjurkan berdoa,.apakah ada hujan yang merupakan bencana? Akhir-akhir ini sering kita mendengar berita bencana alam yang kenyataannya dibarengi hujan. Banjir bandang ataupun tanah longsor yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia ataupun yang terjadi di luar negeri sana selalu disertai dengan peristiwa hujan.
Bagaimana Al-Quran memandang tentang peristiwa hujan? Banyak ayat yang membahas peristiwa alam yang satu ini. Awalnya hujan terjadi dari awan yang merupakan kumpulan uap air dari peristiwa penguapan yang terjadi di permukaan bumi. Dari lautan, danau, sungai bahkan peristiwa penguapan yang dialami oleh tumbuhan dengan evapotranspirasi. Uap air naik ke atas dan membentuk awan dan dengan bantuan angin terkumpul menjadi satu, saat mencapai keadaan jenuh maka turunlah hujan. Dan ingatlah selalu untuk mengambil pelajaran sebagai pesan dari berbagai peristiwa alam.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Al A’raaf 57 (QS 7 : 57) Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya [hujan]; hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.

Kadang manusia membawa perasaan sendiri, maka apabila dirasa telah kering di bumi ini di sanalah manusia menginginkan hujan turun segera. Tetapi tatkala turun hujan dan merasa bagaimana sengsaranya akibat hujan itu, dalam hatinya pun mengutuk mengapa ada hujan. Padahal hujan tiada salah untuk turun ke bumi karena di samping sebagai penyiram dan penyubur bumi, hujan juga sebagai penyuci dan pembersih dari segala kotoran [aktivitas] dan dosa manusia. Terlihat bagaimana kotoran terangkat kepermukaan jalan setelah adanya hujan, itu menandakan parit-parit telah berubah fungsi jadi tempat sampah. Kembali terlihat manusia telah berbuat lalai, maka apabila bencana melanda sebenarnya itu adalah peringatan dan pelajaran bagi manusia.
Isi dari Al-Quran surat An Nuur 43 (QS 24 : 43) Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara [bagian-bagian]nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah [juga] menurunkan [butiran-butiran] es dari langit, [yaitu] dari [gumpalan-gumpalan awan seperti] gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya [butiran-butiran] es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Jadi berkah dan bencana, hanya bagaimana keridhaan Allah atas umat manusia terjadi.
Indonesia termasuk negara nomor lima dari sembilan negara yang kaya akan air di dunia, dengan curah hujan mencapai rata-rata 2.779 mm/tahun. Sedang potensi air diperkirakan mencapai 15.000 m3/kapita/tahun, lebih tinggi dari potensi rata-rata pasokan air dunia yang hanya 8.000 m3/kapita/tahun. Akibat dari kebutuhan yang terus meningkat menyebabkan eksploitasi terhadap sumberdaya air telah dilakukan dengan tidak mengindahkan kaidah-kaidah keberlanjutan air. Apalagi dengan pencemaran terhadap sumber air yang terjadi saat ini, semakin menambah terbatasnya ketersediaan air bagi kehidupan manusia.
Masyarakat wajib bersyukur kepada Allah swt karena Indonesia kaya air tawar. Air tawar merupakan kebutuhan pokok bagi manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Tetapi banyak perilaku dari kita yang boros air dan tidak peduli lingkungan sehingga air bersih semakin langka. Selain berguna untuk keperluan air minum, tidak kalah pentingnya berguna juga bagi keperluan MCK (Mandi Cuci Kakus). Terbayang tanpa air tawar bagaimana runyamnya kehidupan ini.
Air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, tetapi ketersediaan air bersih semakin lama semakin menurun. Karena kualitas air permukaan (sungai, mata air) menurun sehingga kuantitas air yang bisa dikonsumsi menjadi berkurang. Proses sedimentasi yang tinggi akibat peningkatan pencemaran air dan erosi menjadi faktor pendukung penurunan kualitas air permukaan. Selain itu, volume air tanah juga semakin menurun karena kualitas dan kuantitas penyerapan air ke dalam tanah memang berkurang. Kondisi lapisan tanah yang semakin menipis akibat erosi menyebabkan kemampuan tanah menyimpan air semakin rendah. Di samping itu, semakin luasnya lahan yang berubah fungsi sebagai tempat berdirinya bangunan (building recovery) berdampak pada semakin sempitnya permukaan tanah yang dapat menyerap air. Penyebab permasalahan penurunan suplai air bersih ini cukup kompleks sehingga untuk mengatasinya diperlukan kegiatan secara komprehensif dan terpadu dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
Peringatan itu juga telah tertuang dalam Al-Quran surat Al Mulk 30 (QS 67 : 30) Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. Mengapa kita tidak menyadari ini, kenyataannya sungai-sungai telah tercemar, waduk-waduk mengalami pendangkalan, mata air menyusut. Siapa yang paling bertanggungjawab atas peristiwa tersebut, tentu kita manusia sebagai khalifah di bumi ini. Apakah kita akan meminta tanggung jawab pada orang utan di Kalimantan atau pada badak jawa di daratan Banten sana?
Pada saat bersamaan ditemukan kondisi lain yang berlawanan. Sebagian masyarakat karena kemampuan ekonominya, memang tidak terkena dampak krisis air tersebut. Mereka bahkan terkesan berlebih, banyak aktivitasnya yang sering memperlihatkan perilaku boros air. Seperti saat mencuci kendaraan, menyiram tanaman taman di rumah, atau bahkan dari sekedar lupa menutup kran air di kamar mandi hingga seharian karena ditinggal pergi ke kantor.
Sudah tiba saatnya kita untuk mulai prihatin tentang ketersediaan air tawar.
Pertama : Mulailah untuk tidak berperilaku boros dalam penggunaan air. Perilaku ringan seperti menutup kran wastapel saat gosok gigi dapat diterapkan, karena air yang terbuang percuma apabila anda lupa menutup kran mencapai enam liter permenitnya. Jangan biarkan air hanya menjadi limbah karena perilaku anda. Ingatlah bahwa di daratan Afrika sana seorang perempuan harus berjalan sejauh enam kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih bagi keluarganya.
Kedua : Kemudian mencoba bersikap arif terhadap lingkungan, dengan menyediakan ruang terbuka di halaman rumah dalam rangka memberi kesempatan air meresap kedalam tanah. Karena hanya dengan air, kehidupan di dunia bisa berjalan, pertanian, perkebunan, dan sektor perikanan darat semua berkaitan dengan air tawar. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran surat Qaaf ayat 9 (QS 50 : 9) “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam”. Air merupakan komponen utama dalam kehidupan bumi. Sebagai contoh air yang dibutuhkan untuk menumbuhkan gandum sebanyak 1.500 liter. Semua kehidupan memerlukan air, bahkan karena begitu pentingnya air seringkali menjadi sumber konflik.
Ketiga : Dan terakhir (harus) mampu, kampanyekanlah hemat air dalam keseharian melalui perilaku kita. Air merupakan sumber kehidupan sekaligus berkah sebagaimana diterangkan dalam Al Quran, maka ajaklah keluarga terutama dengan anak-anak kita untuk mulai memperhatikan air. Ajaklah mereka berdiskusi dari mana dan bagaimana air mengalami siklus yang panjang sampai dapat dimanfaatkan kita. Dengan demikian diharapkan akan tertanam sikap menghargai air karena penggambaran betapa banyaknya waktu yang diperlukan oleh air untuk sampai ke tangan kita. Ibarat perjalanan, air memerlukan jarak ribuan kilometer, bahkan kita akan lelah hanya untuk membayangkannya. Sebagaimana tercermin sifat pelajaran dan peringatan dari Al-Quran surat Al Waaqi’ah 68 (QS 56 : 68) “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum”.
Tiada kata syukur yang paling indah, kecuali berperilaku hemat air dalam hidup kita mulai saat ini juga. Tuhan pun telah menjanjikan barangsiapa hamba yang pandai bersyukur maka akan dilipatgandakan kenikmatan yang telah dimilikinya. Tentu kita mengharapkan demikian, tidak berharap Indonesia menjadi negara gurun karena adzab. Jangan katakan tidak mungkin, ingatlah seperti telah terjadi dimana dulu Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor minyak, kini telah berbalik sebagai negara pengimpor minyak. Saya akan mulai hemat air dari diri saya sendiri...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REMBULAN PAGI DALAM BINGKAI JENDELA

Dunia Berbagi...

BANJIR LAGI BANJIR LAGI (2)