BANJIR LAGI BANJIR LAGI (1)

Musim penghujan kini menghampiri lagi, tapi kenapa kita menyambutnya dengan nada miris. Khawatir akan terjadinya banjir dan genangan menjadi topik yang menghangat. Padahal bukan kah Allah menurunkan hujan justru adalah sebagai berkah. Apakah kita menjadi apatis dengan angugerah dari Tuhan, ataukah kita justru yang keliru dan cenderung salah dalam menangani alam ini. Apakah rasa syukur kita cukup dengan berucap "Alhamdulillah", sementara perilaku kita cenderung jauh dari rasa syukur tersebut. Miris memang, menjelang musim hujan datang. Seolah menjadi upacara penyambutan, dimana mana digalakkan operasi bersih terhadap solokan, parit parit bahkan sungai. Dimana kita tahu, yang kita bersihkan atau kita angkat dari parit itu adalah sampah! ya sampah plastik utamanya. Siapa yang buang sampah tersebut? tidak mungkin para binatang dari hutan yang melakukannya. Kesimpulannya adalah perilaku keseharian kita yang tidak mencerminkan rasa syukur dengan tidak membuang sampah sembarangan atau membuang sampah di parit,selokan ataupun sungai. Berapa milyar dana yang digunakan oleh Negara untuk mengangkat sampah dari sungai sungai? Perilaku kita yang ringan tangan ketika membuang sampah tersebut telah menyebabkan pemborosan anggaran dan kesengsaraan bagi masyarakat yang terdampak karena banjir. Mungkin anda tidak merasakannya karena anda berada di bagian hulu, tetapi sadarilah bahwa jika kita melakukan sesuatu yang buruk suatu saat akan kembali kepada diri kita juga. Memang benar, banjir tidak seratus persen dikarenakan ulah membuang sampah sembarangan. Tetapi mengapa kita mesti berpikir keras, itu karena iklim yang ekstrem atau karena pengaruh iklim global. Lebih baik kita berpikir dan berkontribusi dari sekitar kita saja, dan pasti kita bisa melakukannya.
Gambar Banjir Soreang Kabupaten Bandung yang di share dari teman... Sebab lain, bisa juga karena pengelolaan hutan yang tidak terencana dengan baik. Dan pengelolaan kawasan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Mengenai hutan, sebenarnya telah ada aturan pengusahaannya, bagaimana memanen pohon dari hutan yang telah sesuai masa tebangnya. Juga harus dihindari illegal logging, yaitu penebangan pohon di hutan yang dilakukan bukan oleh instansi yang berwenang. Atau juga penebangan di kawasan lindung, bukan di kawasan hutan produksi. Kemudian peruntukan kawasan yang berhubungan dengan pemanfaatan untuk kawasan pemukiman. Dengan meningkatnya jumlah penduduk yang semakin besar, berimplikasi pada kebutuhan papan atau rumah untuk tempat tinggal yang tidak bisa dipungkiri. Keadaan demikian telah mengundang pihak swasta untuk berpartisipasi dalam penyediaan perumahan. Hal yang tidak menjadi perhatian adalah efek lingkungan pada pemilihan kawasan untuk perumahan tersebut. Lebih banyak perhatian adalah pada faktor jarak dengan pusat keramaian atau fasilitas jalan. Padahal jargon utama setiap perumahan adalah "BEBAS BANJIR", kenyataannya adalah benar bebas banjir saat musim kemarau saja. Sementara ketika musim hujan tiba, banjir kerap bertandang tanpa diundang di setiap kesempatan. Kembali siklus salah menyalahkan akan timbul ketika musim penghujan tiba...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REMBULAN PAGI DALAM BINGKAI JENDELA

PANCASONA WISATA PUNCLUT

LEMBAYUNG DI ATAS SABUGA